Bocah Ihsan Disembunyi Setan

Heboh, masyarakat kampung di Maccopa Kab. Maros, Sulawesi Selatan, mencari bocah  bernama Ihsan Salewangan yang disembunyikan setan tepat menjelang waktu Maghrib, benarlah pepatah Bugis / pappaseng mengingatkan dengan teks “Rekko mangaribi, rimpai maneng nanak ede tama ri bolae, nasaba Nrara I setangnge”, yang artinya : “ jika waktu menjelang maghrib anjurkan pada semua anak-anak untuk segera masuk ke-rumah,  sebab maghrib itu waktunya setan berkeliaran”. Ihsan anak dari  Pak Tadjuddin Kacang (seorang guru bid.studi Biologi) selama se-jam setengah disembunyi oleh setan, tapi rupanya  si anak tersebut hanya disembunyikan di sela/  2 lemari pakaian yang justru antara tersebut terdapat jendela yang telah tertutup bagian atas, sungguh tempat itu tak terlalu gelap/ dengan  ruang yang masih terang. Cerita si Ihsan pun kita mulai ketika,  ia berada di antara dinding dan 2 lemari tersebut, ia berteriak memanggil orang yang mencarinya, tampak jelas tubuh dan suara si pencari tertangkap oleh Ihsan, namun orang disekitarnya tak melihat keberadaan-nya, bahkan si Ihsan menuturkan bahwa se-keramain pencari ada yang melemparinya garam yang dihamburkan.

bocah Ihsan yang disembunyi setan
Saat Ihsan ditemukan kondisinya basah oleh peluh/ keringat, dengan luapan perasaan yang terbata-bata ia menuturkan “ibu…masa sih tidak melihat saya, dan saya berteriak terus-menerus tapi ibu hanya berada di dekatku dan terus buka tutup lemari berkali-kali, saya terus berteriak  dengan keras tapi orang yang lalulalangpun tak ada yang melihatku di sini, di bawah jendela ini, pula Mia sempat buka jendela yang berada di atasku dan Puang Ramma Jaya, bahkan  tante Muhe yang sempat kugapai-gapai tapi tidak merasakan bahkan cuma hambur garam saja.

bapaknya Ihsan:Tadjuddin Kacang
Pencarian yang mengesalkan dan se-kerumunan orang melanjutkan pencarian di bawah rumah (sebab rumah Ihsan adalah rumah kayu panggung). Dekat dari rumah Ihsan, salah seorang  orang tua dikampung Maccopa mengesan, ketika  jalan ia bertemu dengan sesosok yang antara alis kiri dan kanannya terdapat kekaburan/ semacam melihatnya samar, nada bicaranya aneh dan mengatakan , “adaji itu di atas rumah anak pak guru… tidakji na mau kubawa pergi , mauji ku main-mainin karena ia pintar dan menggemaskan”, usai orang tersebut berbicara ia si orang tua bernama  Dg. Nanring, lansung berjalan cepat ke arah rumah “pak Tadju” (demikian nama panggilan ayah Ihsan) guna menyampaikan berita tersebut, ternyata pembicaraan Dg. Nanring dan si orang aneh tadi terlihat pula oleh si  H.Halimah tetangga dari si bocah Ihsan, katanya pada Dg. Nanring, “kenapa bicara sendiriki..., siapa tadi ditemani bicara”, lugas ia Dg, Nanring menjawab “cepat beritahu orang-orang bahwa  anaknya  pak guru, masih berada di atas rumah“ maka larilah tergopoh-gopoh  H.Halimah kerumah pak guru memberitahukan bahwa  ia Ihsan masih di atas rumah , si H. Halimah baru saja mendekat di kediaman orang tua Ihsan, bersamaan dengan itu terdengar Takbir Ima yang mengejutkan, “ Allahu Akbar , ini iccang ada di samping lemari,  kelihatan kepalanya… “.

Mamanya Ihsan
Penuturan oleh Ima (sepupu Ihsan) yang pertama kali temukan Ihsan mengatakan, “jelas bahwa kepalanya Ihsan duluan terlihat, ya aku kaget makanya saya Takbir sedang semua orang tidak lagi mencari dalam rumah  juga di loteng, aku tahu sebab di bawah kolom rumah sangat bising dengan berbagai macam suara seperti suara seng yang dipukul, dan koor orang-orang memanggil Ihsan”. Ihsan yang merasa telah terlihat sesegera mau lari ke arah Ima tapi tak kuasa sebab seolah ada tangan atau ada penghalang didepannya, tegas Ihsan.

Menanggapi hal ini, tokoh masyarakat A. Nursidin mengobati Ihsan dengan me-jappi/nrugyah menenangkan, “hal ini jangan terlalu dikuatirkan , sebab yang sembunyikan itu tak bermaksud jahat, dan ada peristiwa yang sama dengan kejadian ini, maksudnya bahwa anak seperti Ihsan kelak akan mengalami penajaman panca indra ke 6 / bisa melihat hal gaib atau tidak umum”. Usai di ru’yah Ihsan lemas dan tak mau bicara dan masih dengan baju yang basah penuh keringat.

Parakang manusia jadi-jadian di Sulawesi Selatan lengkap

sambungan dari parakang 1_Ngetrend habis istilah ini "parakang paiso pallo" juga "Parakang doe". Malam itu jum'at, ketika bumi sangat hening dan masyarakat kampung sedang tidur nyenyak melayari mimpi, atau mungkin pasangan suami isteri sedang berhubungan dengan posisi masing-masing. Tetapi cerita ini berakhir saat terdengar raungan halus, namun seperti sangat dekat,“Huaaarrrr… Huarrrrr…. Ghhaaaaarr….”. Tiba-tiba semua terjaga dari tidur akibat bunyi sayup-sayup itu. Kulihat lampu pendaflour berkelip-kelip di siling atap bata. Kuusap-usap mataku, sama, lampu berkelip-kelip begitu juga. Di luar hujan turun dengan lebat, tempiasnya masuk di celah-celah bata keping yang menjadi atap itu. Jam menunjukkan pukul 02.00 pagi.
“Huuuaaarrrrr…., thaapss…!” suara seperti rektum tercabut dari dubur dan tempias ke sebuah mulut seper-sekian detik, seorang korban kehilangan rektum beserta ususnya. (

Parakang manusia jadi-jadian di Sulawesi Selatan
sunting gambar dari  video :parakang tangkapan
Parakang adalah satu jenis makhluk jadi jadian di daerah Bugis-Makassar yang sangat ditakuti. Parakang bisa mengubah diri menjadi bermacam-macam wujud: pohon pisang, kambing, tangkai-tangkai bambu atau "ampoti", (bahasa Bugis terj : keranjang anyaman dari daun kelapa tempat bertelur ayam). Mahluk ini adalah *seseorang yang bisa berubah-ubah menjadi hewan, benda dan apa saja yang bentuk dan modelnya aneh dan menyeramkan, tampak beda dengan asli (obyek yang ditirunya)
Contohnya, dia berubah menjadi Anjing maka anjing hasil jelmaan manusia yang mempunyai ilmu parakang ini beda dengan anjing betulan, perbedaannya hasil setelah jelmaannya maka anjing tersebut tidak mempunyai ekor dan kaki belakangnya lebih tinggi.Jelmaan lainya  bisa juga berubah menjadi kucing, babi, kambing.dan hewan-hewan lainya, yang membedakan dia tidak mempunyai ekor/buntut. dan punggung belakangnya lebih tinggi.

Parakang manusia jadi-jadian bukanlah hantu juga bukan sejenis bangsa jin atau makhluk halus tetapi manusia yang salah dalam proses awal menimba/ menerima ilmu tentang "pesugihan/kekayaan", tetapi pada daerah tertentu pakkissa atau orang yang memberi kisah, cerita tentang parakang ini terkorelasi dengan keadaan pattennung, atau orang yang membuat kain tenun dari bahan ulat sutra (tapi asbab cerita ini terpotong, insyaAllah akan kami cari tahu silang kait pattennung ini dengan parakang ), tetapi secara sebab menjadi parakang ini (disamping sebab sebelumnya yang kami ceritakan tadi ), juga oleh banyak sumber mengatakan " sebenarnya adalah manusia yang menuntut ajaran ilmu hitam untuk mencapai kehidupan abadi juga hal yang berkaitan dengan kekayaan".

Parakang bagian dari anggota masyarakat di Sulawesi Selatan, (maksud kami terdapat satu buah kampung yang seluruhnya adalah parakang pada daerah tertentu, dan meregenerasi  sebab menjadi hal turun-temurung. Apabila orang tuanya adalah seorang parakang, maka anaknya pun akan jadi parakang seolah garis taqdir hidupnya demikian.


Pada umumnya parakang di siang hari ia tampak seperti manusia biasa, hanya matanya tetap kelihatan merah,  sumber mengatakan bahwa sorot matanya memang bikin bergidik, entahlah…. , sedang pada malam hari ia bekerja berkeliaran ke kolom kolom rumah atau sesekali sesuatu berkelebat melintas di jendela rumah, dengan mencari kalau kalau ada yang bisa atau mumpuni di isap rektumnya atau dalam dialektika bahasa Bugis disebut, “ri iso pello na”. Adapun hal /obyek yang sangat suka di dekati parakang bahkan seolah ia tersihir mendekat diluar kesadarannya yaitu adanya orang sakit, atau orang yang baru saja meninggal, juga teridentifikasi oleh sumber mengatakan bahwa , "parakang ini sangat menyukai janin, juga bayi sebagai santapan yang paling enak. Kemestian menyantap atau mengisap rektum ini  menjadi seolah utang yang tak terbayar jika tidak dapat melaksanakan hajatan tersebut, maka jika tak menemu obyek manusia, alternatif lainya adalah mengisap rektum kerbau peliharaan milik masyarakat.

Hingga kini parakang sangat ditakuti terutama oleh ibu-ibu di kampung yang memiliki balita, perawan, orang sakit, terlebih lagi orang sekarat, kategori terakhir ini sungguh sangat di sukai oleh Parakang, seolah melihat sebiji nangka atau buah-buahan lain yang matang sempurna dan menggiurkan untuk dicicipi. Dan hasil wawancara mengatakan bahwa si parakang ini / ke-perubahannya atau je-jadijadiannya terjadi di luar kesadaran, dan tak memilih waktu malam atau siang, hal ini  mencadi cerita umum di Sulawesi Selatan, maka bila seseorang sedang diambang kematian atau sekarat, semacam cam/waspada dari semua famili si sakarat telah mengantisipasi menahan laju dekatnya parakang tersebut, demi ia tak mengisap rektum orang sekarat dan yang sudah meninggal tersebut, cerita tentang ini sekali waktu, ada orang yang sudah meninggal, tersebutlah diantara pengunjung menengok si mayat tersebut, tetapi kecolongan ternyata yang menengok itu adalah parakang, untung saja ia di cegat dengan cepat saat wajah orang tersebut berubah menegang keras dan lidahnya telah menjulur .

fenomenal : Proses menjadi dan ke-abadian Parakang
Jika seorang parakang sedang sekarat bisa sebab ketuaan /menghadapi sakratul maut, ia akan tarus mengulang-ulang kata” lemba …“(pindah : bahasa makassar) sampai ada seorang dari keluarganya yang mengiyakan/ rela dirinya menerim jadi parakang. Meskipun ia hanya menyampaikannya di dalam hati, (barulah parakang tua tersebut dapat menghembuskan napasnya terakhir kali/mati) faktor yang menyebabkan ia menerima /dengan menyetujui hal tersebut berpindah padanya “lemba”/rela menerima, lebih dominan disebabkan oleh perasaan kasihan kepada orang tuanya atau siparakang tersebut, sebab si Parakang itu begitu menderita jika ilmu tersebut tidak berpindah, bahkan ruhnya tak dapat meninggalkan raganya, sangat tersiksa...

Dan keadaan ini, proses lemba sudah menjadi kebiasaan bagi org yang menjadi parakang tersebut tidak bisa meninggal dunia sebelum ada sanak keluargannya menerima ilmu tersebut. iyakanlah maka anda parakang selanjutnya.

Sedetik sebelum parakang
Efek dari keadaan ini maka pantang / pamali /pemmali,/larangan keras untuk orang lain (yang bukan parakang , bertandang kerumah keluarga yang berstatus parakang (sebab ketahuan), meskipun sebab menghargai si obyek parakang sebagai status tidak di sebarluaskan,

Dalam hasil ahli terawang ke-pengenalan, sekali waktu mereka ditangkapi dengan menggunakan kurungan ayam sebagai perangkap, keadaan ini terkait dengan istilah "parakang menyogok dengan emas " agar identitasnya tetap di rahasiakan oleh pawang tersebut, terkadang pula masyarakat yang mengetahui akan keberadaan parakang ini, sering iseng dengan memasukkan belut/nus pada comberan rumah parakang, yang menyebabkan ketahuannya sebagai obyek/parakang karena ia akan mencari/menelusuri terus menerus dimana belut/nus tersebut berada, hingga comberan tampak kering lantaran belut tersebut harus tertangkap, hal ini masih sesuatu yang misterius bagi pelacak yang coba di ketahui.

-sebuah deteksi yang membenarkan penandaan dengan me-coba, perhatikan mata sang parakang tersebut?.(sebuah ket= jika bayang kita terdapat di matanya dlm keadaan terbalik bermakna dia itu memang parakang.

-jika ia berubah ujud pada (kadang malam juga siang) ia dapat menyerupai se- macam anjing dengan badan tak berbulu, cuma bila berlaku transformasi dari manusia ke parakang/ makhluk jejadian, pasti ia akan bertambah besar dan sangat kuat, (lengan dan tangan, kuku-kuku menjadi keras dan panjang, dan muka menjadi sangat huduh, dengan mata merah menyala, dan mulut menjadi besar dengan lidah terjulur kasar dan kesat, serta barisan gigi-gigi yang sangat runcing dan tajam. (....

Parakang sebuah istilah
Banyak yang membenarkan bahwa keluarga parakang itu gadisnya cantik-cantik, merupakan renungan yang menggoda di mata orang/ pemuda, bahkan kehidupan mereka kaya, populernya istilah parakang ini terkait dengan sebuah kalimat bahasa Makassar "parakang doe" / parakang uang, dalam pengertian makhluk jejadian yang mencuri uang, teks ini juga menjadi kata kiasan di sulawesi selatan bermakna " mata duit-an", ada-ada saja sumber uangnya. Wallahu A'lam bishawab.

Antisipasi atau Penangkal Parakang.
Jika menemukan parakang, misalnya dengan wujud pohon pisang, orang dianjurkan untuk memukulnya sekali atau tiga kali saja. Jika sekali pukul dipercaya akan membunuhnya dan tiga kali akan membuatnya cacat. Itulah mengapa perempuan tetangga saya yang pindah itu dianggap parakang karena berjalan seperti orang dengan lutut kesakitan. Menurut orang-orang, suatu malam, perempuan itu tertangkap basah berwujud kambing dan dipukul dengan potongan kayu dilututnya sebanyak tiga kali. Sejak saat itulah ia berjalan dengan cara yang aneh. Makhluk parakang ini memang manusia, tapi jika telah sakarat atau ajal telah mampir, ya mati-nya  susah selagi keluarga atau familinya tidak ada yang rela menerima ilmu sesat  tersebut_Sebagai penerus...berMINATkah anda..?
____________
catatan kaimuddin mbck "hantu hantu di sulawesi selatan"dalam Parakang manusia jadi-jadian di Sulawesi Selatan lengkap, demikian catatan ini- kedepan kami akan lebih memperbaikinya juga melengkapinya, sebab pertanyaan yang banyak dan juga mendesak.link catatan untuk anda ke refresh : 



Parakang manusia jadi-jadian di Sulawesi Selatan lengkap

kumpulan puisi hujan (rindu kita)

karena hujan adalah irama sunyi yang setia, mengerang dalam "Kumpulan puisi hujan", catatan tentang sebuah getir yang memintamu "menyayangnya", sebab hujan semalam tak lelah kerinduan menempelinya, ya... selaksa perkiraan untuk jangka waktu yang tidak tepat, dan barangkali lebih lama..., atas peristiwa hujan maka huruf-huruf tak henti bak mata air, hujan penuh yang menatap kalender, melembab pada dinding tua itu, seolah tak ada peristiwa sorga juga neraka, tak ada kau juga aku, ya sebuah kumpulan puisi dalam kesaksian yang membatu.

tari memanggil hujan
Mengenal hujan ini sebelumnya
Mengenal sisa diam kita, kalau-kalau masih tersimpan luka kemarin yang belum diterjemah, aku.... menulusuri bening matamu, lengkung alismu dan rambutmu yang kau biarkan tergerai, jika saja tersimpan ledak yang mungkin mencairkan beku. sayang….dalam diam ini, kita melewatkan satu hal : rindu yang tak kita mengerti mengapa ia tumbuh, sebab pada akhirnya kita bukan apapun kecuali puisi paling sepi, puisi yang mengendapkan rindu pada kisaran "kau dan aku", ya dalam denyut hujan ini : aku selalu rindu padamu

Hujan memunguti sisa diam kita, dan tik..tik...tik-nya  menyampaikan ketenangan masa lalu itu : ketenangan yang masih kusangka pelukan darimu, begini deras hujan ini sayang…, sebegitu pula diam ini sangat kita kenali. sekira kau memendam kemarau, sesuatu tak diam bahkan bunga disekitaran menyebut "rindu" 
 sekira kau memendam kemarau, tak setanganpun kecuali "aku" ingin menghujani-mu. aku mengajakmu basah...,hingga Tuhan lemparkanmu jauh ke dalam dasar dadaku, betapa hujan ini tanda yang sangat kusukai, ya rangkulan yang begitu erat, sederhana dan melayarkan....

kumpulan puisi hujan 2
Bisikan di antara desau angin tentang cumbu "hujan" yang mampir dipelukmu sebuah kasih yang tiba-tiba datang mengurai senyummu sebentar lagi, ingatkah kau saat hujan membasahi seluruh perasaan kita ?, "itu memabukkan". dan kita diam-diam berterima kasih padanya, 

setelahnya..aku hanya tahu bahwa saat seperti ini, ku-selalu rindu padamu.
(ah... mengenangnya aku tak berani berlama-lama sayang...., seperti keberadaan hujan hari ini yang mungkin tak mengenalmu juga aku)

Sore ini gerimis dan kuharus segera pergi, aku berusaha lupa tentang rambutmu yang kututupi dari titik titik hujan, bahkan aku berdiri disini dan tak ingin kau mengantarku, (sendirian di sini)ini jarum-jarum hujan sayang..., jarum hujan yang mengajarkanmu selangkah demi selangkah tentang rahasia, " keterbukaan benih yang akan tumbuh dari tanah, jika saja hujan sore ini tak bercampur dengan air matamu.

Hujan dan kita tak di manapun (3)
ketika hujan hari ini mengeras, pasti isarat kau tak perlu menjemputku kelak. kita benar-benar mengenal hujan sore itu, penuh tanda sebagai kasih yang purba. 

Puisi » tanpa hujan, aku menggelinding sendiri (4) 
tanpa hujan aku menggelinding sendiri, hujan tak reda di luar jendela, titik-titiknya kehulu dalam jenak yang purna, iringannya gemulai penuh canda "ku cemburu....",
tak ke- pikirkah hujan mengetuk sekali saja di jendela...demi setatap tepi di muara ?,
uh kian keras di luar hujan : dan aku menggelinding sendiri, uh sejenak saja dihenti hujan, maka aku mulai menyalakan konsep matiku dengan bunga bunga di sekitarnya, bahkan tak lagi menyebut rindu terlebih air mata, tak kepikirkah hujan mengetuk rindu kita ?

kau hujan, sering tak sempat bicara,tiba-tiba saja menghambur kegurun,(bilangku ,"singgahlah sejenak lupakan kesal atau menghibur tangismu yang tertancap dalam luka kemarin, jika kau tetap beranjak mengeoslah ketempat cintamu dan menumpahkan semua titik rindumu pada bumi),Uiihhh....tapi, Ia hujan masih sering tak sempat bicara... , bergerak riang seakan menemukan kekasihnya. 

kau hujan yang mengeras-kan aku di setiap aksara. Aku lupa ketika orang-orang berlarian menghindari titik-titik nya, 
: kau hujan rinduku dan aku begitu gila...
____
maaf : kebekuan kumpulan puisi hujan yang sayang jika membuangnya, ia berencana mendengar sekali saja tentang getar " suara cinta yang memanggilnya", dan kemudia ia siap berpetualang atau mati, tak mengapa....!.

teks : binder tua

Benah atas buku-buku tua yang memenuh lemari, juga bahwa musim banjir leluasakan menghanyutkan kesungai atau bakar di atas rumah sebagai perapian,  tampak : binder tua mengesan dengan sampul atas bertuliskan 2008, kata tetangga yang beranjak sma : "sebentar bang..., teks dalam lembaran ini buatku saja, semoga tak ku biarkan lapuk terlebih terbakar, kecuali harus membacanya hingga menulisnya ulang"_bilangku "kau berlebihan dik".

binder tua dengan ruparupa peristiwa di dalamnya, yang tanpa gembok, binder tua dengan besi pengait yang berkarat, binder tua dengan lembaran teks yang berdebu dengan halaman pertama bertuliskan "Aku mencintaimu tanpa alasan: karena aku tahu sebuah alasan pasti akan ada sebab dan akibat".

halaman depanmu seolah tak membutuhkan apapun selain .?, "keadaan lucu-lucu saja membaca teks setelah 5 tahun pra tua seperti ini, dilain halaman terjelaskan impuls sepi sebagai catatan pada rinai gerimis, sesuatu yang pernah berat untuk dilupakan (mungkin untuk kekasihnya atau entah...., awwe...) _ketika muda dulu aku cowok yang suka mengantongi buku catatn usang di belakang saku

begini teksnya : sedang hujan dan dikejauhan kau berbalik tampak :  pundakmu, sejak itu teruntai teks begitu saja teks atas waktu yang terlesap dalam kertas ini, pergimu bukanlah kutuk, aku hanya tak mengerti mengapa cinta sebegitu dekat pun sebegitu pula jauh...(haha...ha...catatan itu sebuah rupa teks megap-megap, sekali dalam teks itu menegas seolah gundah..mungkin risau...

Hari ini medio 2014 : Hentikan bicaramu juga janji tentang hari esok, kini aku tak mengenal satu tekspun, sebab teks adalah lebih pada uluran tangan, keadaan cinta yang berantakan yang harus bangun berulang-ulang atau patah berganti-ganti dalam duka, barulah memenuh tanpa perlu teks. (maksudnya bahwa : "penulis itu /dengan bahan yang segar mesti tetap jatuh cinta berulang-ulang demikian pula harus patah-hati, ya kukira dgn bgini segalannya menjadi kental proses. haha...ha.."berlebihan ya jika kubangun cinta itu kembali ?"_
___________
Demikianlah pesan teks dari binder tua, dalam ketidak tahuan sapa pemiliknya ? (berbohongka') , dengan pesan yang mengharu-biru : semoga kau berkesempatan membacanya,  dan mengingatkanmu tentang seseorang yang tak mengharap apapun selain meninggalkan kesan baik padamu...., ya...sebuah senarai teks yang panjang, mungkin ia sakit....

".... hampir saja ku hafal tiap kata-kata dalam teks naskah itu, kupeduli bahwa ; seseorang telah menunggu lama memahatkan hatinya dalam sebuah teks__kenyataan binder tua (maka) menuliskan kisah..peristiwa….menjadi  teks atau catatan,  sesungguhnya dapat saja lahir dari peristiwa biasa dan menuangkannya penuh  jujur,  U : kau menyimpannya  sebagai  kenangan juga tuk MENEGURnya kalau-kalau ia mungkin ta' menghargai sesuatu yg mungkin saja tuhan menitipkannya untukmu (ih...ini berlebihan )_

binder tua dan aku pada teks : mengesan walau hanya se-tumpukan peristiwa biasa bahkan dengan teks sedikit berdebu._ binder tua risau resahmu meng-abadi disitu, aku tiba-tiba merasa : ada yang abadi dalam rindu kita, dan mengajak pada sesuatu yang tak kita mengerti ....

menandai teks pada binder tua dengan pesan sederhana, membacanya aku serupa  bocah  lugu dan "apa adanya" begitu “alami”, serupa pesan akhir yang tersirat_   

membacanya maka : wajah sesungguhku akan kau kenali disitu, bahkan ... termasuk  mengenali raut wajah ayah... ibuku.....
tulis ulang binder : cinta menjadi teks
Waasalam by Kaimuddin Mbck maros, tumpahan teks masalalu itu masih ada abadi, meski telah saling melup, catatan malam banjir di kassi 2014

sedang embun dan kau tak di sini

Duduk di beranda rumah sedang malam tertidur dan langit penuh gelap, hening yang larut aku tak pernah pindah…, dengan kata "kita" kuteruskan melukis embun goresan tanganmu sebelumnya, sebab tampak bahwa kau tak serius melakukannya,
betapa tidak : kuas di tanganmu memain di rambutku, aku terus menimpali lukisanmu itu dengan memberinya bening dan penegasan lebih hijau, demi tak biarkan embun di ujung daun itu kelak jatuh dan sendiri tanpa bayangan juga kisah.

Usailah embun itu, dengan warna lebih bening, sejenak tampak bahwa wajah kita ada di dalamnya
Embun itu dengan gigil digelap malam, kulihat di beranda rupanya embun memenuh di taman, mengemas bersama rindu, ya seperti kemarin : embun memenuh pada kursi sebelah tempatmu kuberi jacket milikku,

Sedang embun dan kau tak di sini maka puisi juga lukisan telah selesai sayang....,
dalam "gambar tangan kita" tampak : taman kecil ini tumbuh bunga bunga yang BENING, bunga-bunga  yang menjelma…..belahan jiwa , polos dan tulus, tapi tak kau ingat lagi...

Sebelum segalanya berubah dan warna mulai memudar : cepat-cepat kupeluk isaratnya_

Dendang TOENGI BAMBO sebuah Aksentualisasi

Mengenang ibu di hari Maulid, dan telah tak ada ibu yang membuatkan telur Maulid, "ya Allah bahagiakanlah ia disisiMu_ ia ibu dan tak sekatapun lebih indah sebagaimana kata "ibu", ia ibu yang penuh kasih mempertaruhkan doa untuk kebahagiaan anaknya, ia ibu yang berusaha menahan tangismu agar tak tumpah, ia ibu yang mengenalkanmu segala cinta juga bahasa pertama di dunia, ia ibu yang menanamkan di benakmu surga sebagai tempat terindah dan ia ibu yang mendendangkamu napas kebahagiaan dalam hidupmu, di dendangkannya toengi bambo melelapkan tidurmu dan menjagamu dari keterjagaan, kuhapal benar bait-bait lagu yang dinyanyikan ibu, sebab bukan hanya lagu tersebut berakhir untukku tapi juga kepada seluruh adikku, oranglain pun tak terkecuali sekira pula sedang berada di rumah kami dan berada di ayunan, irama dan syair lagu ibu terdengar penuh kasih "toengi bambo de', toengi tanreng rapponna mallido-lido....dst"_

pandangan yang tak banyak berbeda ketika ibu demikian sangat di patuhi disakralkan keberadaannya, pahaman ini pula erat kaitannya dengan anjuran amal shalih dalam Islam dalam kategori mendudukkan Ibu sebagai sesuatu yang sakral, implentasinnya dapat di temukan di berapa hadist : "Surga terletak di bawah telapak kaki ibu", juga perintah langsung dari Rasul Nabiullah "dahulukan... hargai ibu, ibu, lalu ibu, lalu bapakmu ", kemudian  Perihal Ibu (Emma terjemahan Bugis : Ibu/ mama) adalah indikasi "keterpenuhan perwakilan doa anak, atas Tuhan ketika Ibu mendoakannya", seolah bahwa doa ibu tak ada jarak sampainya pada Tuhan_ Dalam banyak cerita sejarah terdapa insiden bahwa "Banyaknya bencana juga kutukan atas bangsa-bangsa terdahulu dari langit di sebabkan berdosa kepada ibu", mengapa demikian ?, pendekatan yang dapat digunakan sesuai implementasi status ibu atas Tuhan bahwa "sekira saja tidak ada tuhan di bumi ini maka ibumulah tuhan yang sesungguhnya", maka ibu pula yang mengenalkan bahasa pertama di dunia pada setiap orang, dan kami suku bugis makassar sungguh banyak menerima doa serta harapan ibu lewat sikap kearifan lokal tersebut dalam dendang / lagu menidurkan anak seperti berikut ini (implementasi pappaseng yang diangkat mnjadi puisi usai penerjemahan)


Bisikan ''toengi bambo''

begitu deras mengalir di sarafku, 
sebuah pesan aMmakku menengadah ke langit, 
entah ia pilu atau sedang terjaga,  masih ia selalu merebut air mataku.
Ommale pammopporanga kodong...., (oh ibu ampuni aku) 
 sejauh ini aku belum menyenyakkan tidurmu
keterangan gambar : ia ibu yang me-tapikanmu beras dengan penuh kasih
______________________
Keterangan kata :
*Toengi bambo (Bahasa Makassar ,terjemahnya> ayunan mendayu-dayu)__*ammakku /Ommale (Bahasa Makassar , Terjemahnya > Ibuku)__
*pammopporanga kodong (Bahasa Makassar)