Kearifan Lokal __

catatan crew Maros Budaya Pappaseng· 30 November 2010_ Kearifan budaya lokal merupakan energi potensial awal dari sistim pengetahuan kolektif masyarakat untuk hidup di atas nilai-nilai yang membawa kelangsungan peradaban yang menjunjung tinggi (istilah) "siri", sibgah warisan dalam sejarah budaya masyarakat lampau Bugis Makassar, dengan segala kearifannya yang tumbuh secara alami me-titah yang dititipkan leluhuhur, atau dalam dialektika disebut "attoriolong"

Sebelum membuangnya kenalkan bahasa ibu
Oleh Maros Budaya Pappaseng· 30 November 2010
Mengantarkanmu gelisah ketika pengejawantahan sipakatau na sipakalebbi (saling menghargai) terkadang hanya merupa coretan tangan yang tampak terpaksa /aku sndiri memaksanya terlihat indah, kita tidak punya pagar betis budaya yg sakral sebagaimana yang dicipta negara Jepang dalam kearifan mereka.

atraktif kearifan lokal untuk kelanggengan budayanya, seperti isarat "teng makke sedding pappaseng .....abiasange -abiasa topa palelei, ke-perubahan ini merupakan likaliku waktu yg menjelaskan perih juga senyum Bugis-Makassar. coretan ini kemana saja kau bebas membuangnya tapi… sebelumnya ajarilah anak2mu mengenal bahasa Ibunya, sebagai sikap dasar, maaf menandaimu selessureng 

"Matinro ri toppo galung" Pandangan Kearifan Lokal 
.........Di kisahkan di dalam lontara (catatan lampau Bugis Makassar diatas daun Tal), ketika seorang hendak mengembara untuk bersikeras mencari kehidupan di tempat lain (dapat juga bertujuan mengembangkan keturunan) maka terlahirlah amanat atau pappaseng yang disampaikan oleh ayahanda sang pangeran tersebut, sekaitan dengan kriteria tanah/ tempat yg baik dgn istilah anennungeng risompereng (jiwa pencari atau perantau) sungguh sebuah uraian yang sarat akan makna. Dalam teks matinro ritoppo galung, berkononotasi sebagai tempat yang baik mempunyai pedataran yang luas, dengan tersedianya wanua pulise babuwa, atau terdapatnya tempat yang dapat dijadikan areal persawahan untuk ketersediaan pangan yang dapat di jadikan lumbung padi, keinginan ini erat kaitannya dengan pelaksanaan tradisi maddengka ase lolo atau menumbuk padi, sebuah pesta ungkapan kesyukuran kepada allah swt atas limpahan hasil sawah dengan cara bermain musik lesung = aplikasi menumbuk padi dengan irama tertentu. tsb….dst ----posting Ibrahim Lamba dg Tata   by : Maros Budaya Pappaseng

"pada dasarnya manusia menghargai hidup dan kehidupan ini (
Bugis-makassar),......tidak lain atas dasar budaya yang mereka junjung sampai detik ini.hal ini dapat kita lihat betapa keras mereka memaknai persoalan SIRI na PACCE hingga sebesar apapun rintangan dan tantangan di samudera,mereka tetap mengarunginya dengan semboyan KUCAMPA'NA SOMBALAKKU NA KUGUNCIRI GULLIKKU KU ALLENA TALLANG NA TOALIA. @post.....Mardianto.

*Pulau itu bernama Balang Caddi_

oleh Sang Baco pada 26 November 2010 jam 15:02
........dunia yang sibuk dengan berbagai hiruk pikuknya, sebuah ruang lengang, yang mengajak kita untuk keluar sejenak dari rutinitas dunia. tempat itu bernama pulau balang caddi, konon penghuni pertama pulau tersebut terkenal sebagai raja1 Balang Caddi yang terkubur di dekat pemakaman raja-raja Tallo. penamaan balang caddi sebagai sara' (prasangka baik) bermaksud terhindar atau tersamarkan dari pandangan para bajak laut pawella (perampok), kata balang caddi (konotasi>tempat genangan lumpur yg kecil) sebagai ampe2 (harapan) untuk hidup sederhana demi keselamatan dan lindungan......dst

{ 0 comments... baca di bawah ini atau tambah komentar }

Poskan Komentar