Naskah Monolog

Seri Naskah monolog Untuk pembelajaran drama tingkat SMA dan Perguruan tinggi. Memetakan saja naskah yang sering di gunakan siswa untuk apresiasi ketika kegiatan pentas seni & apresiasi. Mereka SMA 6 Bontoa dan SMA PERGIS maros, ketika itu beradu drama Monolog di Baruga Utama di Wisata Alam Bantimurung ", Naskah berikut telah di tahun 2009, Sekali waktu di lagakan siswa pada Lomba Drama Monolog di Aula Mattulada UNHAS, catatan yang menandai perkembangan seni drama kontemporer yang coba di apresiasikan siswa/i dalam metode pembelajaran seni di Sulawesi Selatan. ya..mari berbahasa dalam Karya Monoolog.

 “O…Ooo“
                                                                                                         
Setting Panggung :
Ruang, penuh metafora dan cahaya yang selalu berubah, membuat vakum. tapi….masih ada titik kehidupan.
--------------------------------------------------------

Mataku selalu tertuju pada ruang tengah ini, orang selalu berani menganggap bahwa ruang tengah selalu baik elegan… , kata temanku yang biadab itu (ia mendengarku).

Eh…..aku mengatakan ia biadab karena ia, begitu gampang jatuh cinta, menurut orang banyak sih, itu biasa, tapi menurutku “itu biadab, sebab cinta bagiku bukan sebuah keterlanjuran dan bagaimana pun, tetap saja cinta adalah sebuah perasaan sakral dan alami. Cukup, cukup……., cukup membahas tentang cinta.

Kembali ke persoalan tengah…., kata orang, tengah itu adalah inti dari sebuah ruang, di dalamnya terdapat keadilan, kejujuran dan estetika, itulah Tuhan…. Katamu (Ketus). Itu katamu. Kuperingatkan padamu ya, bahwa Tuhan itu lebih dekat daripada urat lehermu sendiri, tapi mengapa kemudian orang berkhianat, tamak bahkan korupsi?, ayo jawab……………...!, (desakmu), Ya………menurutku Tuhan sedang keluar dari tubuhnya (jawabku seadanya).

Tentang Tuhan yang keluar masuk dalam tubuh bukan hal yang patut diperdebatkan. Jika kau mengusik Aku tentang Tuhan, Baiklah…kuulangi lagi jawabanku, Tuhan bagiku ketika laut dibelah oleh Musa dan menenggelamkan Fir’aun atau ketika Ibrahim tak terbakar api, yang jelas bahwa Tuhan adalah kebeningan dikosmos jiwa.(naskah monolog tambahan berikut)

Tidakkah kau lihat langit yang tinggi ini tegak berdiri tanpa tiang, rasakanlah matahari yang selalu aktif menerobos jendela kamarmu ketika kau masih tidur, dan seolah-olah berkata “he…bangun, ba…ngun selesaikan senyummu ,…..ayo bangun mimpi-mimpimu itu !

Tapi serupa apa yah Tuhan itu? oh yah ketika orang bertanya tentangmu dimana Tuhan katakan saja bahwa Tuhan itu di Arsy, kita menyebutnya langit ketujuh. atau ingat…… .ingat ketika Musa hendak melihat Tuhan, langit, tiba tiba saja. Oh…. Di sebelah gunung itu!, Sebuah cahaya (mata silau) siapa yang turun dari langit itu tak berwajah dan begitu terang, oh, ooooh… ia menatap kita seperti matahari. ih, ih, iih….aku terbakar, kulitku hangus, tulangku remuk, mataku tercabut keluar dan darahku menguap, oh, oh…..pejamkan mataku, siapa yang turun dari langit itu tanpa busana kata-kata, uhh cahayanya `melebihi matahari ooohh, oh.. (pingsan)
____________
the end

Nb : Untuk penggunaan Properti dan model kostum, tergantung selera pemonolg.

Demikianlah salah satu contoh naskah monolog, acuan ini kami harapkan menjadi hal memudahkan mengetahui tipikal pembuatan naskah monolog, kami tujukan anak-anak siswa belajar kami di SMA Pergis Maros dan SMA Neg 6 Bontoa Maros. wassalam by: Kaimuddin. Mbck, Rumah Tedde Kassi.7-03-2007_





Naskah Monolog

{ 0 comments... baca di bawah ini atau tambah komentar }

Poskan Komentar