kumpulan puisi cinta dan rindu pada kekasih

Sasak dan kesan mengada-ada, tapi tak sempat ‘bohong’, pada keindahan yang harus ditanggapi dengan pengertian yang benar : tertera dan tajam

Teks dengan latar jalan yang menyadarkan tentang arah pertemuan, pun jejak jalan ini seakan terhenyak ulang rambutmu yang tergerai di kisarkan angin, dan debu bisu jalan ini adalah nuansa "gila rindu " yang mendorong kita berlari ke segala arah untuk sekedar berbisik pada lembaran-lembaran daun tentang temu itu..... Persetan dengan derai hujan yang tak kunjung datang. Atau dengan orang-orang yang berteriak marah pada matahari. Karena aku menemukan oase ku di kumpulan puisi cinta paling rindu pada kekasih. langit biru.. mimpi.. irama musik; " Kasih.. Aku Rindu .."(By: Imma A.

Puisi 1, kau boleh menamai atau memanggilku "batu"
Ketika aku konyol dan tolol, seluruh maumu tak kuindahkan sama sekali, alur sedang melambat sayang, yah..kekurangan sedang berlangsung dan penuh kesan mengada-ada, tapi aku tak sempat ‘berbohong’pada keindahan yang harus kutanggapi dengan pengertian yang benar, tapi indahmu belum juga dapat ku-----teriakkan sayang, duhh...... ?


Jika kau mendesak, kau boleh menamai atau memanggilku "batu",
tapi..hatiku melekat serupa tisu di keningmu, jika kau mem-basuh keringat atau hujan_
Aku sedang konyol sayang..., panggil aku "batu", atau aku melempar diriku sendiri ke pangkuanmu?

Puisi 2 dari kumpulan puisi cinta



Kemudi ini gila sayang
ia,
terjemah rindu yang terkirim tak beralamat,
ketika itulah  kata bermula dari gerimis,,, ..dan 
tumpah menyergap seluruhmu,
lihatlah…. segalamu telah basah,
“ya sebuah genangan gerimis ?”, kau tebak,
padahal 
telah lipatan doa menjadi ....kata,
menjadi .....gerimis,
menjadi....pantai tempat berlabuh.
________

Puisi 3dari kumpulan puisi cinta sang baco

 Rubuh di jembatan_

“Ketika rambutmu disepuh angin sore dari arah jembatan” :
jejak itu memberat seolah akar-akar yang mencuat dari tanah, sangat indah ...

"ngoonnk...ngoonnk..", bunyi klakson mobil tak kuhirau, aku sendiri telah menggenangi jejak-jejak itu, tampaknya kau lebih dekat dari apapun, lebih jingga dari segala kata, aku merasakan jutaan kenangan berhamburan yang beratnya mematahkan jembatan, dan membendung air yang meluap,

Sejenak ku henti bernafas, kisah-kisah di jembatan itu terus terbakar
kembali sore ini ketika pepohonan di pinggir sungai tak bergoyang disentuh angin kita akan tahu, bahwa seguyuran hujan di siang tadi adalah hikayat epilog sederhana;tentang angin yang HANYA melerai hujan dan mengarak pelangi membayang di wajahmu

ada yang tumbuh subur, ada yang mengalir begitu gaduh
tampaknya terlalu dekat dengan jantung jembatan
sebaris puisi kuletakkan di pinggir jembatan, memanggilmu....
____

kaimuddin mbck,dari antologi puisi "kumpulan puisi cinta", sang baco

{ 0 comments... baca di bawah ini atau tambah komentar }

Poskan Komentar