Musik dan tari tradisional "Mappadendang", Sulawesi Selatan (musik Lesung)

Tradisi turun-temurung ini,merupakan salah satu seni pertunjukan masa lalu yang populer di Dusun Allu, Desa Minasa Baji, kecamatan Bantimurung. Dipertunjukkan pada waktu tertentu usai padi dipetik dengan cara diketam (sebuah alat pemetik khusus dengan sifat memotong, secara jamak di sebut “ani-ani”), irama mappadendang sebagai musik lesung merupakan istilah yang diduga berasal dari luapan perasaan bahagia/ bersenang-senang. Sedang perangkat utama dalam tradisi ini adalah lesung,  adalah sebuah wadah yang berbentuk cekung sebagai tempat menempa atau  untuk menumbuk padi.lihat gambar berikut.

          Lesung ini sekaligus perangkat yang memproduksi bunyi/ instrumen musik. Adapun maddengka/ ketukan yang menghasilkan irama bunyi, dengan cara : padi yang ditumbuk menggunakan alu/ antang dengan mengikuti format irama tertentu.     Sumber mengatakan bahwa terdapat 2 (dua) ketukan yang terjadi dalam format tersebut, yaitu jenis ketukan Attannang (berjalan labil) dan ketukan Appalari (ketukan yang mengatur tempo, cepat atau lambat). Lesung sendiri sebenarnya, merupakan batang  kayu besar yang dibuang bagian dalamnya.
           Adapun gabah yang akan diolah ditaruh di dalam lubang tersebut, kemudian padi atau gabah lalu ditumbuk dengan alu, semacam tongkat tebal yang juga dari kayu, penumbukan berulang-ulang sampai beras terpisah dari sekam.
Setelah zaman kian maju, membersihkan padi dengan lesung ditinggalkan, karena di nilai kurang dapat memperoleh hasil yang banyak. Kini lesung tetap di lestarikan sebagai aplikasi kesenian tradisional.
Prosesi tradisi ini bertujuan untuk Maddengka ase lolo/ menumbuk padi yang baru di ketam, adapun jumlah  para pelaku, (disaat meliput peristiwa ini) kebetulan berjumlah  12 orang, tapi  sumber : Ibrahim Lamba mengatakan, “ jumlahnya bisa lebih,  tergantung panjangnya assung”.

Pelaku tradisi Mappadendang seorang laki dan perempuan, tetapi keunikan tradisi mappadendang dari dusun Allu ini, karena diiringi dengan tari Pattapi (tarian yang menggunakan property penampi (semacam nampang lebar yang di rajut dari rotan), dengan pelaku semuanya perempuan berjumlah empat orang. Keberadaan penari Pattapi ini menunjukkan urutan urutan proses mengerjakan padi menjadi beras. Gerakan penari Pattapi mengikuti hentakan ritme  yang diatur temponya oleh Pappadekko , namun hentakan ketukan yang dilakukan pappadekko tidak mengenai padi , hanya lesung, karenanya irama yang dihasilkan pengatur tempo ini terasa khas. Proses awal sebelum tradisi ini dimulai dilakukan pembacaan doa oleh panrita / tokoh agama dengan tujuan menyampaikan ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas  keberhasilan panen.
referensi >*Kaimuddin Mabbaco, "Kearifan Budaya Lokal", PT. Pustaka Indonesia Press Jakarta _____________
Sumber dari :http://www.sangbaco.com/.  
*buat teman & sahabat Blogger yang  tampilkanlah sumbernya ya...  bagian dari etika penulisan.

Incoming Search 

{ 0 comments... baca di bawah ini atau tambah komentar }

Poskan Komentar