Musik Tradisi Mappadendang

Sungai dari luapan air Bantimurung lalu ke seberang  pada Desa Minasa Baji, maka ditempat ini isyaratkan   sinyalemen  masa lalu yang menjadi  penanda batas antara kerajaan simbang sebelah selatan timur, sedang  daerah sebelah sungai  arah utara barat adalah kerajaan Lau yang ditandai  pada Desa Minasa  Baji dusun Sege-segeri, usai padi dipetik dengan cara diketam oleh sebuah alat pemetik khusus dengan sifat memotong, secara jamak di istilahkan pakkatto (istilah bahasa Makassar) atau disebut “ani-ani”. Proses awal rangkaian  tradisi dimulai dengan pembacaan doa oleh panrita (bahasa Bugis yang berarti tokoh agama), dengan tujuan menyampaikan ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas  keberhasilan panen, yang di-aminkan oleh pelaku budaya tradisi "Mappadendang". Musik tradisipun di gelar...

Tradisi Budaya Mappadendang Desa Minasa Baji'
Budaya tradisi mappadendang atau senandung dari bunyi lesung yang di ketuk seolah menumbuk padi, merupakan iImplementasi  dari luapan perasaan bahagia atau bersenang-senang sebab keberhasilan panen padi, dengan perangkat utama adalah lesung berupa sebuah wadah yang berbentuk serupa perahu, cekung sebagai tempat menempa atau  untuk menumbuk padi. lihat gambar berikut.dan alat penempa.

Dusun Sege-segeri  depan kediaman rumah Galla (pemimpin kampung)  merupakan lacak jejak tempat digelarnya  pesta, usai panen yang ketiga ini, dikenal dengan istilah panen “ ase bare’/ gadu", dengan terjemahan “pesta panen ketiga yang jatuh pada musim kemarau" sebagai penanda/waktu diadakannya tradisi mappadendang ini, demikianlah  waktu tertentu ini tanda terlaksana tradisi acara yang dikenal dengan istilah dalam bahasa Makassar “Maddengka Ase Lolo”   atau pesta menumbuk padi, dan istilah lebih popular acara tradisi rakyat ini di sebut dengan “Mappadendang”.  Mengurai nostalgia  acara ini sumber Bapak Ibrahim Lamba sebagai  sesepuh di acara tersebut menyampaikan bahwa, “  bunyi yang dihasilkan akibat ketukan yang dilakukan pada lesung juga menjadi penanda  atau sinyalemen di periode lampau tahun 50-an,  bahwa saat itu terlaksana acara pesta pernikahan, namun sebab perkembangan teknologi  semakin memudahkan sehingga  suaru bertalu-talu ini dari lesung tak lagi terdengar sebagai tanda akan perihal tersebut".

keterangan gambar : pelaku yang menggunakan alu pendek adalah pemimpin tradisi ini dengan istilah bahasa Bugis Makassar di sebut paddeko
Peran Pappadekko dan Padendang bentuk Irama Khas 
Pelaku tradisi Mappadendang menggunakan pakaian adat tradisional beserta songkok pamiring, prosesi tradisi dalam ritme ketukan di komandoi  oleh “pappadekko” dalam istilah bahasa Bugis,  dan pengiring lain yang terkomando melakukan ketukan disebut dengan “padendang”.  Keterangan : Paddekko pemimpin yang melakukan hentakan ketukan tidak mengenai padi mengindikasikan pengaturan  irama cepat dan lambat dan dengan efek bunyi yang diketuknya dengan menggunakan alu atau alat pengetuk  lebih pendek seolah pemukul  bola pada olahraga kasti dan pada bagian atas lesung atau disebut dengan istilah bahasa Makassar “bungasa’ “, (keterangan: hanya bagian atas pada lesung) dengan demikian  irama yang dihasilkan dalam pengatur tempo ini terasa khas. Sedang yang mappadendang pada bagian “assung-assung” bentuk pemukulnya lebih panjang atau dengan terjemahan ketukan dilakukan pada bagian kedalaman (sebuah bentuk yang wadahnya seolah perahu)

keterangan gambar : perubahan komposisi yang dilakukan oleh pelaku tradisi mappadendang dengan gerak-gerak terstruktur seolah pencak silat dengan antang seolah pedang digerakkan atas bawah juga dengan putaran


Musik Lesung   Irama Unik dan Langka
Lesung dengan bentuknya yang cekung ke dalam adalah perangkat yang memproduksi bunyi/ instrumen musik. Adapun arti maddengka adalah tumbukan pada padi dengan menggunakan alu/ antang dengan mengikuti format irama tertentu.     Sumber mengatakan bahwa terdapat 2 (dua) ketukan yang terjadi dalam format tersebut, yaitu jenis ketukan Attannang (bahasa Makassar terjemahan: berjalan labil) dan ketukan Appalari (Bahasa Makassar terjemah : ketukan yang mengatur tempo, cepat atau lambat). Lesung sendiri sebenarnya, merupakan batang  kayu besar yang dibuang bagian dalamnya.
        
Adapun gabah yang akan diolah ditaruh di dalam lubang tersebut, kemudian padi atau gabah lalu ditumbuk dengan alu, semacam tongkat tebal yang juga dari kayu, penumbukan berulang-ulang sampai beras terpisah dari sekam. Setelah zaman kian maju, membersihkan padi dengan lesung ditinggalkan, karena di nilai kurang dapat memperoleh hasil yang banyak. Kini lesung tetap di lestarikan sebagai aplikasi kesenian tradisional.

Prosesi tradisi ini merupakan aplikasi Maddengka ase lolo/ menumbuk padi yang baru diketam, adapun jumlah  para pelaku, (disaat meliput peristiwa ini) kebetulan berjumlah  12 orang, tapi  sumber : Ibrahim Lamba mengatakan, “ jumlahnya bisa lebih,  tergantung panjangnya assung”. Pada bagian alas assung tersebut, tampak batang pisang (lihat gambar di atas) sebagai alas yang mengantarai tanah dengan tujuan bahwa,  dikatakan oleh sumber bahwa alas tersebut berguna nyaringkan bunyi lesung sehingga terdengar dimana-mana dan membentuk gema atau bahana suara sebagai pertanda meriah pesta panen akbar.
______________________
Lacak jejak tradisi (etnik) dalam catatan dan gambar oleh Kaimuddin Mbck dalam Tradisi Mappadendang Kabupaten Maros 

{ 1 comments... baca di bawah ini atau tambah komentar }

Anonim mengatakan...

mantappna tulisannya sang baco, saya suka infonya....lain dari yang lain...by orang yang senang membaca tulisan2 sang baco...keren..

Poskan Komentar